MUSEUM PERUSNIA: ALTERNATIF WISATA DI TENGAH KOTA BANGKALAN
Berwisata tidak harus ke gunung, pantai, atau tempat hiburan. Ada satu tempat yang bisa digunakan untuk berwisata sekaligus menambah ilmu. Letaknya pun strategis, di tengah kota. Cobalah kunjungi Museum Uang Perusnia Bangkalan. Museum ini adalah museum uang pertama di Jawa Timur yang dikelola secara pribadi/perorangan.
Museum
Perusnia terletak di Kelurahan Demangan, tepatnya di Jalan KH Moh Kholil Gang
IX/36 Bangkalan. Tidak sulit untuk menemukan museum ini. Jika dari arah
alun-alun Bangkalan, Anda perlu menuju ke selatan melalui Jalan KH Moh Kholil sejauh
kurang lebih 1 km. Beloklah ke kanan (barat) memasuki gang pertama setelah
Masjid Ar-Roudloh. Sekitar 100 meter kemudian Anda akan menemukan museum mungil
ini di sebelah kanan jalan.
Nama
Perusnia merupakan singkatan dari Perkembangan Uang dalam Sejarah Dunia,
diambil dari judul buku pertama yang ditulis oleh founder Museum
Perusnia, Raden Panji Salman Alrosyid Dungmoso. Jika Anda berpikir pemilik
museum adalah seorang bapak yang sudah sepuh, Anda salah besar. Salman Alrosyid
adalah seorang pemuda berusia 20an tahun yang sudah memiliki ketertarikan
terhadap uang kuno sejak usia belia.
Jadwal
buka Museum Perusnia sesi pertama adalah jam 08.00 – 12.00 WIB, namun untuk
hari Jum’at hanya sampai jam 11.30 WIB. Setelah jeda istirahat, museum akan
dibuka kembali pada sesi ke-2 pada jam 13.30 – 16.00 WIB. Museum buka setiap
hari, kecuali pada hari libur nasional. Harga tiket masuk free alias
gratis.
Selain
melayani pengunjung dari masyarakat umum, Museum Perusnia juga menjalin kerjasama
dengan beberapa sekolah dan kampus. Biasanya siswa yang berkunjung terdiri dari
beberapa kelas dengan didampingi guru untuk mempelajari mata uang baik jenis
maupun sejarahnya. Karena bangunan museum yang mungil seluas 88 m2,
maka tidak semua siswa bisa masuk sekaligus ke dalamnya. Jika siswa yang datang
terlalu banyak, maka sebagian dari mereka bisa menunggu di luar. Untungnya di
sana terdapat café yang bisa dimanfaatkan untuk menanti giliran masuk museum.
Jika pada awal berdirinya tanggal 2 Januari 2021 museum ini mengoleksi sebanyak 2.500 buah uang dari 152 negara, maka sekarang koleksi bertambah menjadi 2.600 buah yang berasal dari 156 negara. Di museum Anda akan menemukan bahwa uang pada jaman dahulu – sebelum abad XII – tidak berbentuk koin atapun lembaran kertas. Ada yang berbentuk kapal, jangkar, dan lain-lain. Ternyata bentuk-bentuk ini diadaptasi oleh benda-benda yang ditemui oleh penduduk sesuai dengan hal-hal yang terdapat di sekitar mereka. Misalnya penduduk di daerah pesisir, mereka akan membuat mata uang berbentuk lumba-lumba, kerang, dan lain sebagainya.
Kehadiran
museum ini memberi dampak positif baik bagi pengunjung maupun UMKM lokal. Bagi
pengunjung tentu saja mereka akan mendapat tambahan wawasan tentang sejarah
mata uang dunia. Bagi bisnis lokal karena Salman Alrosyid juga menjual merchandise
berupa kaos dan gantungan kunci yang dipesan dari para pelaku UMKM di Bangkalan.
Café di dekat museum pun mendapat rejeki dari pembelian kudapan oleh pengunjung
museum.
Bagi Anda yang tertarik dengan sejarah khususnya terkait mata uang dunia, jangan lupa kunjungi Museum Uang Perusnia Bangkalan untuk mendukung sektor eduwisata dalam negeri. Salman Alrosyid dengan pengetahuannya yang mendetail tentang sejarah mata uang akan dengan senang hati menyambut kedatangan Anda.


Comments
Post a Comment